Workshop E-Modul Tahun 2019

15 Sep 2019 10:10:42

Dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di Provinsi Sumatera Selatan, pemerintah pusat melalui Kemdikbud menetapkan beberapa SMA sebagai sekolah zonasi dan untuk SMP sebagai sekolah bermutu. Dulu, namanya adalah sekolah rujukan. Karena kebijakan bahwa semua sekolah secara bertahap harus memiliki standar yang sama, maka perlu adanya sekolah yang menjadi acuan tahap awal untuk pengimbasan mutu tersebut.

Di jenjang SMA dan SMP banyak program yang dilaksanakan seperti e-raport, e-modul, pembelajaran STEM, penyusunan RPP, soal HOTS dan lain sebagainya. Adapun sebagai narasumber dari berbagai sumber yang kompeten seperti widya iswara dari LPMP, instruktur nasional / satgas dapodik yang ditetapkan oleh kemdikbud maupun dari guru / operator yang menguasai program tersebut.

Berikut adalah salah satu dokumentasi kegiatan workshop e-modul yang dilakukan di SMP Negeri 2 Martapura Kabupaten OKU Timur, pada Hari Jumat, tanggal 13 September 2019 dengan Narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan. Hal ini juga sebagai wujud komunikasi dan kolaborasi yang berkelanjutan antara Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten OKU Timur. Untuk dokumentasi, bahan materi dan software beserta contoh e-modul dapat diakses pada website http://emodul.infodata.top

Kegiatan workshop tersebut di buka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten OKU Timur, Bapak Wakimin, S.Pd, MM. Adapun point-point yang disampaikan oleh beliau adalah sebagai berikut :

Pengembangan E-Modul untuk sekolah bermutu di SMP Negeri 2 Martapura diharapkan berkelanjutan. Saat ini sudah memasuki zaman teknologi 4.0 dimana internet dengan segala macam konten positif dan negatif sangat mudah diakses oleh siapapun. Implementasi e-modul agar dilakukan secara bertahap, minimal ada kelas sampel yang diharapkan menjalankan e-modul kepada murid-muridnya sebagai bahan pembelajaran di kelas maupun di rumah.

Setiap guru harus cinta dengan pekerjaannya sebagai guru sehingga menimbulkan rasa tanggung jawab. kalau kita bisa luar biasa kenapa harus biasa-biasa saja. Setiap guru akan mendapatkan merk / branding dari murid-muridnya, antara lain :
1. Guru yang hanya mencatat
2. Guru suka marah-marah
3. Guru tidak peduli
4. Guru rajin / berprestasi


Tentunya setiap guru memiliki latar belakang yang berbeda sehingga tidak bisa disamakan satu dan yang lainnya, namun tentu harus memiliki visi dan misi yang sama yaitu mencerdaskan anak bangsa yang berkarakter. Pola mengajar di setiap kelas harus memiliki tujuan dan sasaran yaitu dari tidak tau menjadi tau, dibuat umpan balik dan analisa berapa yang sudah paham. Kemudian dari tau menjadi hobi, dan dari hobi menjadi sikap serta kebiasaan yang baik.


Anak-anak zaman sekarang perlu variasi dalam pembelajaran antara lain yaitu belajar dengan menggunakan media video (film). Sudah banyak contoh materi pembelajaran digital berbasis IT (Information Technology), namun meskipun IT bagus, harus tetap membiasakan budaya tegur sapa, bercerita dan bercengkrama antara guru dan murid.


Tantangan untuk setiap guru adalah menghadapi anak-anak yang ekstrim dengan image nakal, tidak pintar, susah diatur dan lain sebagainya. Tentu guru tidak bisa hanya memilih mengajar anak-anak yang rajin, penurut dan baik. Justru tantangannya adalah mengubah sikap dan karakter anak sehingga lebih baik dan berprestasi. Bagaimanapun nakalnya seorang anak, setiap guru harus sabar membina sampai anak tersebut lulus dengan ijazah. Sabar itu idealnya adalah tanpa batas, jika sudah sampai batas kesabaran maka disitulah akan timbul masalah baru. Menyelesaikan persoalan itu harus secara tuntas, disampaikan dulu bahwa itu salah sehingga timbul kesadaran dan kemauan untuk perbaikan diri. Kita harus berpikir positif dan menganggap semua orang pada hakikatnya adalah baik, sehingga setiap bertemu dengan siapapun sugestinya akan selalu baik.


Guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan. Baik buruknya murid ada di guru dan setiap bagian punya tugasnya masing-masing. Selain guru tentu ada kepala sekolah beserta wakilnya dan pihak dinas pendidikan yang siap untuk men-support. Setiap guru agar mampu membuat jati diri yang terkenang sampai ke anak cucu dari muridnya. Mutu merupakan tugas bersama, setiap bagian mempunyai tugas pokok dan fungsi masing-masing yang dapat dikembangkan. Selain itu guru jangan sampai kehilangan kepedulian terhadap lingkungannya, seperti bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan dialog orang tua / wali murid.

 



News Ticker